San Francisco

Judul : San Francisco
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie 
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia
Tebal Buku : 215 Halaman
ISBN : 9786023755929
Rating : 3 dari 5





Blurb:


Satu-satunya yang menarik dari cowok bernama Ansel adalah badannya yang ketinggian, kegemarannya akan musik klasik, dan senar-senar harpa di ujung jarinya. Ansel bekerja di Suicide Prevention Center, bertugas mengangkat telepon, hingga akhirnya ia menemukan hal menarik yang baru: Rani—gadis dari negeri asing yang mengiris nadi setiap dua hari sekali.


Sekarang sebagian besar kehidupan Ansel berputar di sekitar Rani. Dan, Ansel bertanya-tanya apakah pertemuan mereka di Golden Gate Bridge San Fransisco adalah takdir, atau sekadar kesialan? Karena dari sini, mobil kabel yang membawa kisah mereka bisa saja menanjak terus hingga setengah jalan menuju bintang, atau justru terjebak dalam kabut di atas perairan biru dan berangin San Francisco. 


***


"What do you consider a safe place?" 
"A place where you are away from hard--self inflicted, or by someone or something else." ---halaman 3


Ansel adalah seorang pekerja paruh waktu di Suicide Prevention Center yang bertugas untuk mengangkat telepon dan mendengarkan cerita orang-orang yang putus asa. Di lini telepon ini, tidak jarang orang menceritakan bagaimana kisah memilukan mereka bahkan sampai upaya terakhir sebelum bunuh diri.

Di hari pertamanya bekerja, ia mendapat telepon dari seorang misterius yang mengajaknya tebak-tebakan judul lagu yang langsung dijawab benar oleh Ansel. Karena, rupanya Ansel memiliki ketertarikan yang amat besar terhadap musik klasik. Ia bisa memainkan harpa, bahkan tahu tentang banyak lagu dan trivia seputar lagu-lagu itu; entah tentang kisah dibalik pembuatan musiknya, atau tentang musisinya.

Selain bekerja di tempat itu, Ansel juga kerja paruh waktu di kedai roti. Ansel sering membawa makanan ke tempatnya kerja dan menyenangkan Maria, sang mentor yang terpaut usia hampir satu dekade dengannya. Pembawaan Maria yang menyenangkan menjadi bagian dari orang-orang yang suka menindas Ansel selain kakaknya Gretchen dan suaminya--di mana Ansel menumpang tinggal. Sebenarnya Ansel memiliki pacar, bernama Ada. Gadis itu dikenalnya saat sedang melalui proses pelatihan sebelum diterima sebagai petugas Suicide Prevention Center. Tentang hubungan Ansel dan pacarnya itu, banyak yang berkomentar menyangsikan. Kata mereka, Ada terlalu "sederhana" bagi Ansel yang memiliki karakter unik dan butuh didampingi oleh seorang yang "luar biasa".

Orang misterius yang menelponnya itu bernama Rani, seorang gadis Indonesia yang tinggal di San Francisco. Ia mengalami depresi dan berkali-kali memutuskan bunuh diri. Dan rupanya, Rani menjadikan Ansel sebagai hotline pribadinya. Suatu hari, mereka bertemu di Jembatan San Francisco. Lalu mereka menjadi akrab. Pun juga Ansel dengan Benji, pacar Rani yang seorang musisi, juga Ada. 

Hubungan mereka berjalan tidak lagi biasa. Terlebih, saat satu per satu rahasia terdalam yang mereka miliki terkuak begitu saja.

***



Hmmm. Sebenarnya 3,5 ....

Saya sudah menuliskannya di review Jakarta Sebelum Pagi kalau Ziggy mampu mengubah gaya tulisannya--atau sebenarnya sama saja tapi kesan yang berhasil ditangkap pembaca--berbeda-beda sesuai dengan karakter tokoh yang ada di dalam novel-novelnya. Pertama Ava, kedua Emina, dan ketiga Ansel. Apa perbedaan yang ada pada si Ansel? Bahwa dia adalah seorang pemuda San Francisco, ras kaukasoid, hidup dan besar di sana. Ziggy berhasil membawa aura itu ke dalam novel ini. Bahwa tokoh dan setting-nya memiliki budaya dan kehidupan yang amat sangat berbeda dengan novel ber-setting lokal. Sebuah apresiasi besar saya berikan untuk penulis atas kelihaiannya dalam membangun setting dan nuansa.

Selain itu, pemilihan "prentilan" yang out of the box rasanya melekat dengan Ziggy, dan saya suka. Ini seperti membaca sesuatu yang bahkan kamu tidak akan pernah memikirkan bahwa itu akan menyatu dengan sebuah jalan cerita. Seperti misalnya, pekerjaan Ansel. Lalu, mengambil setting Golden Gate Bridge sebagai tempat untuk bunuh diri alih-alih menjadikannya sebagai tempat wisata atau tempat bersetting-setting romantis ala-ala. Konsep "tanah air" yang disajikan benar-benar pas juga membuat saya berdecak kagum.

Tapi, di sini, saya kurang mendapatkan kesan tentang pembangunan karakter yang ada di dalamnya. Terlepas dari hal pertama yang tadi sudah saya jelaskan, di sini saya tidak berhasil klop dengan karakter-karakternya. Lagi pula, premis yang ditawarkan benar-benar memikat, namun di tengah jalan terkesan terlalu banyak yang dijabarkan sehingga membuat plotnya menjadi bias. Oke mari kita bahas satu per satu. Yang pertama, tentang karakternya. Ansel? Oke. Saya bahkan punya gambaran bagaimana visualisasi dan laku Ansel dalam benak saya. Karakter-karakter lainnya? Juga oke, dan saya bisa membayangkan mereka seolah seperti sedang menonton film. Tapi, entah mengapa, saya tidak berhasil menangkap character building-nya dengan baik. Mungkin ada pengaruhnya dengan jalan cerita yang melebar tadi? Ya, bisa jadi. Di awal karakter yang berperan mungkin hanya Ansel dan Rani saja, lalu muncul Ada, ada pula Benji, Maria, Gretchen, Dexter, dan banyak lagi. Sebenarnya tidak masalah punya karakter banyak, hanya saja di sini--terutama di bagian tengah--saya merasa seolah karakter-karakter lain kepingin melompat peran dari "karakter pendukung" menjadi "karakter (semi) utama" (kalau memang penggolongan karakter itu memang ada, hehehe). Jadinya, cerita yang seharusnya berfokus pada plot utama jadi banyak cabangnya. Sebenarnya bagus saja sih kalau ada cabang-cabang cerita yang kemudian akan menunjang plot utama. Tapi di sini rasanya saling overlaping, menurut saja. Bukan tidak bagus lho ini, bagus dan sah-sah saja kok. Saya masih menikmatinya, namun rasanya kurang mengalir dan sedikit kurang sreg saja.

Lalu ... ada satu hal yang mengganggu saya (di luar typo dan kesalahan penulisan yang banyak saya temukan--di bawah sepuluh sih, tapi di atas lima menurut saya "cukup banyak"). Yaitu, tentang kebiasaan unik para tokohnya tentang "trivia". Jadi, si Ansel ini suka dengan musik klasik, bahkan dia pemain harpa. Dan juga, dia berharap agar orang-orang mengerti dan mencintai kesukaannya itu. Makanya, dia senang menyampaikan trivia tentang musik-musik klasik, bisa tentang cerita unik komposernya, atau kisah di balik pembuatan musiknya. Sejujurnya, saya suka dengan karakter Ansel yang ini, membuatnya unik. Dan karakter-karakter unik akan melekat dalam ingatan pembaca dalam waktu yang lama. Tapi, entah mengapa, rasanya penulis kebanyakan membuat trivia di sini. Bukan hanya pada Anselnya saja, tapi juga Benji yang mempunyai trivia seputar opera-opera yang disukainya. Dan karena orang sekeliling Ada suka ber-trivia, dia juga jadi ikutan latah punya satu trivia juga. Saya jadi merasa ... overdosis. Kalau satu itu unik, kebanyakan jadi agak anu juga. Kayak, ada kejadian yang berhubungan dengan musik atau apa pun yang dirasa unik muncul, langsung di-trivia-in. Padahal, cukup Ansel yang punya karakter begitu saja sudah cukup. Kalau kebanyakan tokoh punya trivia begitu, kadar keistimewaan si Ansel jadi berkurang.

Dan tentang tema besarnya seputar bunuh diri .... Hmmm. Entah mengapa, tema seperti ini lagi sering saya temukan di novel-novel yang saya baca. Rasanya, kembang kempis juga karena saya merasa tidak hanya sebagai pembaca, tapi juga saya memiliki sudut pandang sebagai orang yang pernah memikirkan hal tersebut meskipun alhamdulillah ya Allah, nggak sampai pada tahap depresi akut sampai punya keinginan untuk mengeksekusi itu. Saya setuju dengan kalimat ini:

Alasan orang bunuh diri berbeda-beda, tapi akarnya tetap sama: merasa kesepian. ---halaman 21

Kesepian di sini bisa berarti dia tidak punya teman berbagi, tapi juga bisa karena dia tidak tahu bagaimana caranya berbagi atau terbuka dengan orang lain. Ketika semua permasalahan bertumpuk jadi satu, dan tidak menemukan jalan keluar dan terus dihantui dengan "what if" atas apa yang bahkan belum akan terjadi, pemikiran-pemikiran seputar ingin bunuh diri bisa saja terlintas. Bisikan setan menari-nari kesenangan tuh. Hahaha. Tapi, penulis berhasil mengeksekusi tema ini dengan baik. Kesan bahwa "hah, Rani gitu doang kok depresi sampai berkali-kali bunuh diri" berhasil terhapuskan dalam benak saya karena pada akhirnya saya dapat pemahaman bahwa cara orang lain menghadapi masalah tidak sama dengan cara yang kamu hadapi, pun juga begitu dengan kemampuan mereka dalam mengelolanya. 

(Pokoknya, tentang teknik menulis, jangan ragukan kemampuan Ziggy. Hasilnya memukau!)

Jadi kesimpulannya, saya tidak akan pernah kapok untuk baca novel karya Ziggy :3


2 komentar:

  1. Yuupp bener sekali, banyak trivia yang justru bagiku (orang yang sangat awam dg musik klasik) akan merasa bosan. Bahkan aku harus menyabarkan diri sebisa mungkin saat tokoh Ansel dan Benji saling bertemu di satu adegan. Pasti yang mereka bicarain panjaanngg lebar, dan ujung2nya ngga ada sedikitpun yang bisa aku tangkap.

    Soal ceritanya banyak nyabang, emang bener banget. Juga ttg tokoh pendukung yang seolah2 berevolusi jd tokoh utama. Bahkan di pertengahan, cerita ttg Rani yang sempat banyak disinggung di awal, seakan terlupakan begitu saja.

    Ah ko jadi panjang lebar ya? Nanti aku ulas selengkapnya di blog deh hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada yang setuju :)))) Iya itu cukup mengganggu Bin, kayak jadinya overdosis trivia gitu kan. Dan juga banyak tokoh yang mendadak jadi sorotan utama. Rani sama Ansel kan jadi sedikit tersisih =))


      Ayo ayo Bin, ditunggu reviewanmu.

      Delete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)