Journey to Andalusia

Judul : Journey to Andalusia
Penulis : Marfuah Panji Astuti
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Tebal Buku : 192 Halaman
Cetakan Pertama, Januari 2017
ISBN : 9786023943913
Rating : 4 dari 5




"Andalusia itu di Turki, ya?"

Tidak banyak generasi muda Muslim yang masih mengetahui jejak sejarah Andalusia. Sebenarnya, Andalusia adalah sejarah yang paripurna, negeri sejuta cahaya, tempat segala hal hebat berawal. Islam pernah menyinari negeri itu dengan ilmu pengetahuan, peradaban, dan kemanusiaan selama 800 tahun. Lebih dari 2/3 sejarah Islam ada di sana.

Kalkulus, algoritma, trigonometri, aljabar, adalah hasil pemikiran ilmuwan muslim bagi kemajuan peradaban. Tanpa penemuan-penemuan itu, tidak akan ada revolusi digital yang kita nikmati saat ini. Catatan perjalanan ini bukan sekadar menjelaskan bahwa Islam pernah berada di Andalusia, wilayah yang kini bernama Spanyol, Portugal, dan sebagian Prancis--bukan di Turki--tapi juga mengingatkan bahwa benderang itu bersumber dari Islam.

Apakah Cordoba masih berpendar cahaya? Seperti apa Mezquita? Semolek apa istana Alhambra? Semua jawabannya ada di dalam catatan ini.

***

Prolog

Apa yang kaupikirkan ketika membaca sebuah buku travel journey? Mengetahui tempat-tempat yang dituju, kekhasan kota-kota yang dikunjungi, dan juga hal menarik yang tidak didapat dari buku mana pun, baik buku sejenis atau bukan. Membaca Journey to Andalusia, bagi saya bukan hanya sekadar menjadi sebuah catatan perjalanan raga semata, melainkan membaca kisah lintas generasi, terlebih lagi tentang cerita yang berhasil menyentuh ruhani.

Buku yang bagus, menurut saya, adalah buku yang bisa membawa pembacanya masuk ke dalam perjalanan yang dilakukan oleh tokoh di dalamnya, merasakan apa yang terjadi dalam isi kepalanya, menjadi dekat dengan suasana hati mereka. Apalagi, jika buku itu sebuah catatan perjalanan.

Penulis mengantar para pembacanya untuk menjelajah negeri Andalusia dengan kemasan yang apik dan menarik. Sehingga, bagi saya selaku pembaca, bisa merasakan langsung apa yang sedang dikisahkan oleh sang penulis tersebut. Sehingga, saya akan memberikan ulasan ini dengan kalimat "perjalanan kita" alih-alih "perjalanan penulis". Karena, saya pun ingin mengajak para pembaca untuk dapat menikmati ulasan ini sama seperti ketika saya membaca buku Journey to Andalusia.

Maka, dari satu titik di peta, di benua Afrika-lah, perjalanan kita dimulai.


Maroko, si Negeri Maghribi

Ada alasan khusus mengapa penulis mengambil negara Maroko sebagai titik mula perjalanan ini. Sebuah upaya untuk menapaktilasi jejak perjuangan Musa bin Nushair dan Thariq ibn Ziyad saat menaklukkan semenanjung Iberia.

Secara umum, Maroko adalah negara bekas jajahan Prancis. Sehingga, aksen Arab di negara ini bercampur dengan Prancis. Maroko juga negeri di persimpangan Mediterania, jadi jangan heran jika penduduknya dikaruniai rupa yang menawan.

Di Maroko, banyak sekali tempat yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Masjid Hassan II.

Masjid Hassan II (Sumber Gambar)
Merupakan ikon negara Maroko yang sangat indah. Sebagian bangunannya menjorok ke Samudra Atlantik. Luasnya mampu menampung 80 ribu jamaah. Desain interiornya yang cantik, dibangun dengan kecermatan yang tinggi dan detail yang sangat rumit. Masjid ini adalah salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi jika pergi ke Maroko. Subhanallah, jadi kepingin shalat di sana.

Maroko menjadi saksi lahirnya para pejuang Islam yang hebat pada masanya. Prajurit-prajurit penakluk Andalusia lahir dari sana. Sebutlah panglima Thariq bin Ziyad. Tidak hanya itu saja, kekuatan iman yang telah tertancap membuat penduduknya yang memegang teguh ajaran Islam bahkan pada masa kolonial Prancis yang menduduki wilayah ini.

Masih dari wilayah Afrika tersebut, kita berkelana menuju dusun Al Qarawiyyin. Sebuah universitas tua berdiri sejak 859 M, bahkan sebelum Universitas Al-Azhar yang termasyhur, atau Universitas Oxford di Inggris. Tempat itu, kini dikenal dengan Old Medina. Banyak ilmuwan terkenal lahir dari tempat ini. Sebutlah Ibn Khaldun, atau Al Arabi.

Old Medina menawarkan sebuah tempat yang menarik. Universitas bernama Al Qarawiyyin berada di sana. Selain itu, banyak panorama warga lokal yang menarik untuk dikunjungi. 

Suasana Proses Penyamakan Kulit di Old Medina (Sumber Gambar)
Ya, tempat ini bagaikan oase untuk semua makhluk. Oase pengetahuan yang menjadi obor penerang manusia. ---halaman 47

Assalamualaikum Andalusia

Bagaimana perasaanmu ketika hendak berkunjung ke tempat yang sangat ingin kaukunjungi? Tentunya senang sekali. Selain senang, pasti kau sudah mencari tahu segala macam informasi serta tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Lalu, setelah mendapatkan kesempatan ke sana, apa yang terjadi? Tentu kau bahagia sekali, bukan?

Namun, yang dirasakan penulis ketika menginjakkan kaki di Andalusia adalah..., sedih. Perasaan sedih itu, menguar dan menulari saya selaku pembaca Journey to Andalusia. Sebelumnya, penulis sudah melakukan beragam riset tentang tempat ini: Andalusia, bumi di mana dahulu pernah menjadi saksi kejayaan Islam di tanah Eropa, ketika bahkan negara-negara adidaya yang kita kenal sekarang masih diselimuti kegelapan ilmu pengetahuan.

Sedih itu benar-benar terasa ketika penulis menjejakkan kaki di tempat ini, Andalusia atau yang dikenal dengan nama Spanyol. Karena, bukti dan jejak peradaban Islam di sana nyaris tak bersisa. Malaga adalah kota tujuan pertama. Kota ini tertulis dalam memoar Ibn Batuta, penjelajah muslim yang pernah melakukan perjalanan ke sana.

Local guide memberikan penjelasan tentang tempat ini, yang lalu dibantah oleh penulis. Bahwa, informasi sejarah yang disampaikan menurutnya banyak yang salah. Apalagi, tentang Daulah Umayyah. Saya merasakan apa yang dirasakan oleh penulis kala itu. Bahwa, demi menghilangkan Islam hingga ke akar-akarnya, bahkan informasi sejarah pun diputarbalikkan. Betapa nyaris tidak tersisa jejak Islam selama ratusan tahun di sana. Apalagi ketika menyaksikan tempat-tempat yang dahulunya masjid berubah fungsi menjadi gereja, atau museum.

Langkah saya terhenti. Jantung saya berdegup kencang. Saya mendongak ke atas, menatap minaret tempat lonceng itu berdentang. Hati ini terasa sedih. Dulu, dari atas minaret itu pastilah sang muadzin mengumandangkan azan lima kali sehari. ---halaman 74

Alhambra, Granada, Cordoba... riwayatmu kini

Akhirnya perjalanan ini sampai pula ke Alhambra. Sebuah istana yang luar biasa indah, menjadi salah satu UNESCO World Heritage Site, yang terletak di Provinsi Granada. Alhambra adalah puncak dari teknologi, arsitektur, dan seni yang lengkap. Keindahannya tak tertandingi, bahkan saat raja Spanyol Charles V ingin membuat istana yang mirip, bangunan itu tidak bisa mengalahkan Istana Alhambra.

Istana Alhambra (Sumber Gambar)


Untuk bagian dalam istananya sendiri, benar-benar apik dan luar biasa. Ada kaligrafi di dinding Istana Alhambra, berhias tulisan Laa haula wa laa quwwata illa billah. Lalu The Nasrid Palace yang merupakan salah  satu bangunan utama dalam kompleks istana ini. 

Palacio de los Leones (Sumber Gambar)


Perjalanan menyusuri Istana Alhambra bukanlah sekadar menghadirkan diri secara fisik di sana. Namun, jauh daripada itu, turut pula mengantarkan kisah pilu kekalahan kaum muslimin yang terpaksa terusir dari sana. Kisah menyedihkan tentang janji yang tak ditepati oleh Isabella dan Ferdinand, penguasa yang memberikan mandat untuk menghancurkan pemeluk Islam hingga sama sekali tak bersisa dari tanah Granada. Sebuah perjalanan yang memilukan, ketika bukti-bukti kejayaan Islam masih berdiri dengan gagah di sana, tetapi mengandung saksi pilu tentang kondisi umat Islam pada masanya.

Sekarang kita akan menyusuri kota Cordoba. Cordoba adalah sebuah nama, namun bagi bangsa Eropa, Cordoba bagaikan alunan nada-nada indah. Di sinilah kebangkitan peradaban bermula.

Masjid Agung Cordoba menyimpan kenangan pilu nan sendu. Sebuah bangunan megah yang beralih fungsi sebagai gereja, lalu kini berubah menjadi museum. Tidak ada pahatan ayat-ayat Allah di sana, menyisakan gambar-gambar dan patung-patung. Mihrabnya bahkan berada di balik teralis besi. Terdengar kembali lonceng dari minaret yang dulunya... pasti menjadi tempat berkumandangnya azan. Betapa, sebuah perjalanan yang mengagumkan sekaligus menyayat hati.

Masjid Agung Cordoba (Sumber Gambar)

Akhir dari Perjalanan

Perjalanan kita harus berakhir, diakhiri dengan sebuah pertunjukan tari Flamenco yang sarat makna dan kesedihan. Kisah Ziryab menemani pengembaraan jiwa penulis saat menyaksikan tarian khas dari Spanyol ini.

Tak... tak... tak... tak... tak... tak...
Dentaman itu kian bertalu-talu. Gelak tawa Ziryab, timbul tenggelam, berganti dengan derap pasukan Thariq ibn Ziyad yang mengobarkan jalan jihad. Rabbana, inikah jawaban atas tanya, apa yang terjadi di Andalusia? Sudut mata saya basah. Di hari terakhir di Andalusia, saya menyaksikan Flamenco, sebuah tarian duka... ---halaman 158

Epilog

Saya sudah banyak memberikan kesan di bagian awal tulisan ini. Bahwa, perjalanan ke Andalusia tidak hanya sekadar perjalanan fisik semata. Jauh daripada itu, banyak sekali sentuhan ruhani dan napak tilas sejarah dunia tersimpan di sini. Memberikan jejak-jejak yang perlu disinggahi. Menghamparkan remah-remah roti petunjuk untuk ditafakuri. Ini bukan hanya sekadar mengenang romansa indah tentang kejayaan Islam di masa silam. Namun, sebuah kenyataan pahit tentang runtuhnya sebuah dinasti dan hilangnya peradaban sejarah manusia.

Perjalanan ini tidak hanya berbicara tentang sebuah kisah tentang agama semata. Namun, sebuah cerita tentang kemanusiaan, rasa toleransi yang besar, dan juga sebuah pelajaran berharga yang bisa kita petik hikmahnya di masa sekarang. Journey to Andalusia menjadi gerbang yang menyenangkan untuk mengenang sejarah umat manusia terdahulu. Membuat saya ingin membaca buku-buku berkenaan dengan itu. 

Tidak hanya berkisah tentang sejarah saja, layaknya sebuah buku catatan perjalanan, banyak sekali tips bermanfaat yang bisa diambil jika kita ingin berkunjung ke sana. Seperti misalnya, plus-minus bepergian dengan travel agent atau berkunjung secara mandiri. Dari segi gambaran biaya yang harus dikeluarkan, tips menarik seputar tempat-tempat yang wajib dikunjungi, tentang tour guide yang hanya bisa memandu di areanya saja, dan banyak tips menarik yang wajib diketahui di sana.


Mendengarkan Coldplay

Judul : Mendengarkan Coldplay
Penulis : Mario F. Lawi
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 52 Halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2016
ISBN : 9786023756292
Rating : 2 dari 5




Mendengarkan Coldplay adalah sebuah buku puisi yang mengambil tema cerdas, menggunakan judul lagu Coldplay sebagai judul puisinya, di mana isi puisi-puisinya terkadang setema atau se-feel dengan lirik lagu Coldplay. Namun, puisi penulis kebanyakan bercerita dengan unsur religi kristiani. Sepertinya lho ya, mengingat saya tidak paham dengan ajaran kristiani yang diangkat oleh penulis. Tapi tidak semua kok, ada juga yang bercerita tentang kisah cinta, yang bisa diartikan secara universal.

Saya membaca buku puisi ini tentu saja sambil mendengarkan lagu Coldplay yang dimaksud. Dan supaya lebih meresapi (mengingat listening saya buruk banget), saya cari lagu-lagu di Youtube yang ada liriknya. Ada beberapa yang punya feel selaras dengan lagunya, misalnya See You Soon yang sama-sama mengangkat cerita tentang kehilangan teman (dalam harfiah maupun kehilangan orientasi kehidupan, atau iman(?) entahlah). Terkadang, karena saya tidak menemukan keselarasan atau kesesuaian tema lagu dengan kandungan puisi, saya mengulang-ulang lagu yang dimaksudkan. Dan, untungnya ini adalah Coldplay, yang mana bahkan diputar berkali-kali pun, lagunya tetap bagus dan kau tidak akan menyesal melakukannya. Asal lagi punya banyak waktu saja sih, hehehe.

Sebenarnya, perilaku itu (membandingkan isi lagu Coldplay dan isi puisi Mendengarkan Coldplay) bisa dibilang kurang dibenarkan, menurut saya. Karena, bisa saja keduanya berdiri sendiri, tidak beririsan. Mungkin penulis hanya terinspirasi dari sepotong kata dalam judul yang sama, tapi interpretasi yang ada di dalamnya tidaklah sama. Misalnya, saya tidak menemukan kesesuaian itu pada In My Place. Puisinya, saya mengartikan tentang... oke, saya kurang paham dengan makna puisi itu. Namun, saya bisa merasakan feel yang terbangun dari musik dan lirik Coldplay di judul yang sama, bahwa lagunya bercerita tentang orang yang merasakan kehilangan seseorang dan tengah berjuang untuk menunggunya datang kembali.

Pada Yellow, saya merasakan adanya ikatan yang kuat tentang perasaan jatuh cinta. Di The Scientist, justru puisinya berisi satu kalimat bermakna dalam:

Bagaimana cara membangkitkan orang mati?

Begitu saja. Padahal, The Scientist adalah salah satu lagu Coldplay yang saya suka sekali. 

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard

Oh, take me back to the start

Sebenarnya, memaknai puisi ini bisa dengan dua cara, dengan atau tanpa mendengarkan lagu Coldplay. Intinya, sama-sama tentang penyesalan, bagaimana caranya memperbaiki hubungan jika orang yang pernah kita lukai itu sudah tiada? Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap darinya.

Fix You, adalah lagu kesukaan saya lainnya setelah The Scientist. Lagunya sendiri bercerita tentang seseorang yang selalu ada, untuk orang lain. Yang bahkan, mungkin saja keberadaannya tidak disadari. Namun, orang itu selalu ada, membantunya memperbaiki semua kesalahan, semua keadaan.

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Sebenarnya lagu ini kental sekali dengan konsep ketuhanan jika mau mengambil dari sudut pandang itu. Namun, dalam puisinya, saya tidak merasakan perasaan yang begitu kuat yang tecermin dalam bait-bait puisinya. Atau, mungkin pemahaman saya saja yang tidak sanggup meninterpretasikan tiap bait kata yang dituliskan penulisnya di sana.

Tentu saja, jika saya mendedah satu per satu judulnya, di mana ada dua interpretasi berbeda yakni dari sudut pandang lagu Coldplay lalu puisi-puisi di sini, tentu akan memakan banyak sekali ulasan. Akhirnya, saya hanya bisa memberikan kesimpulan beberapa hal tentang buku puisi ini:

Pertama, konsepnya menarik. Kedua, andai saja tidak ada benang merah dengan lagu-lagu Coldplay, saya rasa saya tidak akan cukup memiliki ketertarikan dengan puisi ini. Kalaupun membacanya di luar konteks dari lagu-lagu Coldplay, sepertinya saya akan kesulitan mencari makna yang terkandung dalam isinya. Bukan berarti tidak bagus. Hanya saja, saya yang awam tentang kisah biblikal, tentu tidak akan mengerti beberapa cerita yang diangkat di sini. (Lagi pula, ketertarikan untuk mencarinya di mesin telusur pun belum ada.)

Bintang dua yang saya berikan di sini bukan karena puisinya tidak bagus, wah, kata-katanya bagus kok dan sarat makna. Bukan pula saya anti membaca kisah-kisah biblikal. Saya rasa, alasan saya bukan karena itu. Hanya saja, saya yang kurang bisa menangkap makna tersebut. Lalu, yang ada saya justru malah lebih tertarik ke kutub lirik dan lagu Coldplay, bukan justru masuk ke dalam semesta baru yang ditawarkan oleh penulisnya melalui untaian kata-katanya. 

Secara umum, kata-kata yang membekas hanya ada pada sebaris puisi di judul The Scientist itu saja (itu pun lebih karena kekuatan pengaruh lagunya, ketimbang puisinya). Dan akhirnya, saya tidak lagi berusaha memahami puisi-puisinya tapi justru melanjutkan playlist Coldplay, dan hanya membuka-buka sekilas lembaran puisi ini.


[Guest Post] Agatha Christie 101

Halo teman-teman. 

Dalam rangka BBI Share to the Love, saya kedatangan guest post nih di Resensi Buku Nisa. Sebelumnya, saya sudah memperkenalkan guest post sekaligus partner saya di acara yang diselenggarakan divisi event Blog Buku Indonesia ini. Kalian bisa baca postingan pembuka saya di sini nih. Dan ya, guest post saya kali ini adalah, Kak Astrid Lim.

Kak Astrid Lim akan membagi kisah tentang penulis favoritnya, yaitu Agatha Christie. Sebagai pembaca yang kurang begitu familier dengan genre misteri, saya merasa senang sekali dengan ulasan Kak Astrid ini lho. Apalagi, saya belum membaca sama sekali buku-bukunya Agatha Christie (aduh, ke mana aja saya ya...?).

Berikut ulasannya, selamat menyimak.

***

Agatha Christie 101

















Agatha Christie adalah salah satu penulis yang berjasa membuat saya jatuh cinta pada dunia buku dan membaca. Pertama kali saya mengenalnya sebenarnya dari buku-buku lungsuran Mama saya, yang ternyata juga merupakan penggemarnya semasa beliau muda dulu. Tapi saya baru benar-benar melahap buku Christie setelah saya duduk di bangku SMP dan SMA, dan sampai sekarang, Queen of Crime ini tetap bertengger di salah satu posisi puncak dari daftar penulis favorit saya.

Nah, lewat guest post ini, saya mau berbagi sedikit tentang beberapa alasan saya menyukai karya-karya Dame Agatha Christie, dan apa saja fakta-fakta yang perlu diketahui untuk para pembaca yang mungkin ingin mencoba mencicipi kisah misteri sang Ratu Kejahatan ini.

Poirot dan Marple

Dua tokoh utama yang paling sering mendapat porsi cerita dari buku-buku Agatha Christie adalah Hercule Poirot dan Miss Jane Marple.

Favorit saya tentu saja Monsieur Poirot, detektif berkebangsaan Belgia yang menetap di London. Meski gayanya suka belagu dan arogan, tapi justru itu yang membuatnya menarik untuk diikuti. Poirot terkenal dengan “sel-sel kelabu”-nya, yaitu otak yang menurutnya merupakan modal penting untuk memecahkan masalah apapun. Poirot tidak percaya dengan metode detektif jaman dulu yang heboh mengikuti jejak dan memungut puntung rokok. Ia percaya bahwa kasus apapun bisa dipecahkannya hanya dengan duduk di kursi sambil menggunakan sel-sel kelabunya. Dan memang, metode psikologi ala Poirot ini yang membuat kisah-kisahnya amat menarik dan tidak membosankan. Apalagi kalau ia sudah berceramah di akhir buku, mengungkap si pelaku pembunuhan lengkap dengan twist yang membuat pembaca ternganga-nganga. Seru banget!

Sedangkan Jane Marple, atau yang dikenal dengan sebutan Miss Marple, adalah perawan tua yang tinggal di desa kecil St. Mary Mead. Miss Marple bukanlah seorang detektif, tapi kemampuannya mengamati dan menganalisa sifat-sifat manusia bisa menyejajarkannya dengan tokoh detektif andal manapun. Kisah-kisah misteri yang melibatkan Miss Marple biasanya bersetting di desa tempat tinggalnya, dan melibatkan orang-orang yang sudah dikenal dari buku-buku sebelumnya. Meski demikian, bukan berarti misterinya menjadi membosankan, lho. Miss Marple selalu berhasil membawa kejutan yang bikin geleng-geleng kepala.

Selain Poirot dan Marple, Agatha Christie juga menulis beberapa kisah dengan tokoh detektif lepas yang hanya muncul sekali saja, serta beberapa judul dengan tokoh utama detektif maupun non detektif yang sempat muncul lebih di satu buku, seperti suami-istri yang berprofesi sebagai mata-mata, Tommy dan Tuppence, atau konsultan serba bisa, Mr. Parker Pyne.


Five for Newbies

Nah, tidak lengkap rasanya tulisan saya tentang Agatha Christie kalau tidak dibarengi dengan beberapa rekomendasi judul, terutama untuk para pembaca yang baru ingin mencicipi karya-karyanya. Berikut lima buku versi saya yang mudah-mudahan bisa mewakili kejeniusan Dame Agatha.

1. The Murder of Roger Ackroyd



Judul ini mungkin merupakan salah satu judul paling fenomenal dari semua karya Agatha Christie. Mengisahkan tentang Poirot yang (katanya) sudah pensiun, namun harus berhadapan dengan kasus pembunuhan Roger Ackroyd. Mungkin premisnya terdengar biasa saja, tapi ending dan twistnya, luar biasa!


2. Murder on The Orient Express



Yang ini juga wajib baca untuk para newbie. Tokohnya masih Poirot, yang harus menyelidiki pembunuhan di atas kereta mewah Orient Express, saat kereta tersebut terperangkap salju. Lagi-lagi, Poirot berhasil membuat kita tercengang-cengang dengan kesimpulannya yang luar biasa. Ditambah lagi, suasana terisolasi di tengah salju memang benar-benar menambahkan atmosfer yang mencekam.


3. A Murder is Announced



Yang ini adalah kisah misteri dengan tokoh Miss Marple, dan bersetting di desa St. Mary Mead. Seisi desa diundang untuk menyaksikan pembunuhan yang akan terjadi di sebuah rumah. Miss Marple memenuhi undangan tersebut karena ia mencium sesuatu yang lebih dari sekadar permainan konyol. Dan benar saja- sebuah pembunuhan benar-benar terjadi. Miss Marple, dengan segala kecemerlangannya, berhasil mengungkap salah satu misteri paling rumit karya Agatha Christie ini.


4. Why Didn’t They Ask Evans?



Buku ini tidak memiliki Poirot maupun Miss Marple sebagai tokoh detektifnya. Sebaliknya, tokoh anak muda Bobby Jones dan Frances Derwent, yang bersahabat meskipun datang dari golongan sosial-ekonomi yang berbeda, hanya muncul sekali saja selama karier Agatha Christie. Namun, unsur misteri yang kental dengan kejutan, ditambah dengan dialog dan chemistry kedua tokoh utamanya, membuat buku ini menjadi salah satu pilihan menyenangkan, tidak terlalu berat untuk dicerna, dan sarat dengan unsur komedi dan sedikir romance, sangat cocok untuk para “newbie” Agatha Christie.


5. And Then There Were None



Saran saya, jangan membaca buku ini bila belum pernah membaca buku Agatha Christie sebelumnya, karena unsur horror dan thrillernya memang termasuk yang tingkat tinggi. Nuansa ceritanya juga sebenarnya agak lain dengan kebanyakan buku Agatha Christie, karena lebih menekankan pada unsur suspense dibandingkan kisah misterinya sendiri. Ceritanya tentang 10 orang yang secara misterius dikumpulkan di sebuah pulau terpencil, dan satu per satu dibunuh dengan cara-cara yang tidak biasa. Mengerikan, bikin merinding, dan yang jelas bisa membuat kita kepikiran terus setelah selesai membacanya. Tapi, tetap menjadi salah satu karya Agatha Christie yang paling terkenal dan dianggap sebagai masterpiecenya.

Semoga sekilas penjelasan tentang Agatha Christie ini bisa membuat kalian tertarik untuk mencicipi karyanya juga ya.


***

Itu dia ulasan dari Kak Astrid. Terima kasih ya Kak Astrid, sudah memberikan tulisan tentang Agatha Christie dan memberikan rekomendasinya ke saya! :D Simak juga ulasan saya (yang gantian jadi guest post di blog Kak Astrid yaaa... Bincang-Bincang tentang Genre Metropop)


Ditunggu komentarnya teman-teman semua.



Pengumuman Giveaway Some Kind of Wonderful



Halo teman-teman.

Mohon maaf yaa, pengumuman ini hadir begitu terlambat. Dikarenakan kesibukan dan kemarin sempat sakit, akhirnya saya baru mengumumkan giveaway Some Kind of Wonderful hari ini.

Tapi, sebelum saya mengumumkan siapakah yang beruntung di kesempatan pertama blogtour Some Kind of Wonderful, saya ingin mengucapkan terima kasih dulu ya. Pertama, terima kasih kepada Kak Winna Efendi dan Gramedia Pustaka Utama yang sudah mengajak saya untuk jadi salah satu host di blogtour ini. Sukses selalu buat Kak Winna, senang sekali rasanya bisa berkesempatan untuk ikutan dalam rangkaian A Month with Winna Efendi kali ini. Kak Winna adalah salah satu penulis Indonesia yang saya suka novelnya. Ditunggu karya-karya selanjutnya. Terima kasih untuk Kak Asri, Kak Kiky, dan teman-teman lain sesama host blogtour. Semoga sukses selalu hingga rangkaian blogtour ini selesai yaaa.

Last but not least, rasa terima kasih ini saya berikan kepada teman-teman semua yang sudah meluangkan waktunya untuk mengikuti blogtour di blog saya. Semoga kalian tidak kapok dan terus meramaikan blog ini.

Dan akhirnya, tibalah saatnya pengumuman pemenang. Setelah membaca jawaban dari teman-teman, dan mengecek kelengkapan persyaratan, saya memutuskan untuk memilih satu orang yang berhak mendapatkan novel ini. Saya terharu dengan jawaban yang diberikan teman-teman semuanya. Momen berharga dan bahagia itu memang membutuhkan perjuangan untuk mendapatkannya. Atas berbagi ceritanya, saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua. Dan yang beruntung di blog saya ini adalah:

Selamat kepada:

Riza Putri Cahyani
@Zhaa_Riza23


Ditunggu konfirmasinya via dm di twitter @niesya_bilqis. Sertakan nama, alamat, dan no telepon untuk pengiriman bukunya, paling lambat 3 x 24 jam setelah pengumuman ini dibuat.

Anyway, selamat kepada pemenang. Buat yang belum terpilih, masih ada kesempatan lainnya. Nantikan giveaway lainnya yang diadakan di blog saya. Untuk kalian yang belum beruntung di sini, bisa mengikuti lagi rangkaian blogtour ini (alamat blognya ada di banner atas). Dan pemberhentian selanjutnya ada di sini.

Selamat pagi dan selamat beraktivitas!


[#BBISharetheLove] Introduction: Let's Share the Love

Halo selamat malam teman-teman.

Ada yang spesial hari ini. Hmmm, ada yang tahu ini hari apa? Kalau yang jawab ini adalah Selasa, benar sih, yang mengatakan kalau ini H-1 pilkada serentak juga benar lho :D Dan yang mengatakan kalau ini hari Valentine... let's see... benar juga, karena banyak yang memperingati tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang. Kalau saya memperingati juga nggak, ya? Saya sih menebar kasih sayang setiap hari, nggak pakai hari khusus :D Ada satu lagi lho yang terkenal di hari ini... tanggal 14 Februari juga dikenal sebagai International Book Giving Day. Maka, sebagai peringatan itu, BBI alias komunitas Blog Buku Indonesia mengadakan yang namanya...

BBI Share the Love 2017



Kegiatan ini bertujuan untuk lebih mengakrabkan diri dengan member BBI satu sama lain. Selain pasangan member akan saling menjadi guest post di blog mereka, pasangan ini juga akan bertukar kado yang judulnya dipilih dari wishlist yang sudah diberikan. Wah, seru, bukan? Selain bisa mengenal genre buku favorit pasangannya, kita juga saling bertukar kado.

Pasangan saya kali ini, mempunyai genre bacaan yang berbeda dari saya. Wah, salut deh dengan panitia yang memilihkan pasangan berbeda genre ini hihihi, karena saya jadi bisa mengenal genre favorit dari pasangan saya tersebut. Siapakah orangnya?


Astrid Lim



Salam kenal buat Kak Astrid... jujur saya baru kenalan dengan Kak Astrid dari Share the Love ini lho :D

Genre kesukaan Kak Astrid adalah: misteri (terutama Agatha Christie), children's books/middle grade/newbery winners (Kate Dicamillo, Enid Blyton, JK Rowling), klasik (Dickens, Lewis Carrol etc). 

P.S.: Tentang genre kesukaan Kak Astrid ini, ada yang bertolak belakang dengan saya dan ada pula yang mempunyai kemiripan. Saya suka buku-buku anak-anak juga, sama seperti Kak Astrid. Saya suka (pakai banget) serial Harry Potter milik JK Rowling. Saya suka Edward Tulane-nya Kate Dicamillo. Tapi, saya tidak akan membahas yang kami sama-sama suka karena yang akan dituliskan Kak Astrid dalam guest book-nya nanti adalah tentang... Agatha Christie. Wow, saya excited begitu tahu Kak Astrid bakal mengulas Agatha Christie di blogku. Karena, saya belum mengenal dan belum menyentuh sama sekali buku-bukunya Agatha Christie (*hiks*). Karena saya juga mendapatkan rekomendasi balik dari Kak Astrid tentunya saya bakal dapat panduan dari mana harus mengenal sosok legendaris genre misteri tersebut. Terima kasih Kak Astrid dan Divisi Event BBI yang memasangkan kami ;)


Informasi tentang Kak Astrid bisa ditemui di sini. Dan saya copaskan untuk kalian yang ingin mengenal Kak Astrid lebih dekat ;)

I’m a thirty-something girl , love to read, write, travel,  and watch some movies.
I’m not a shopaholic, but if it’s related to books, I couldn’t help myself.
Things I love: spicy food, dogs, books with nice covers, flea market, bookstore sales, hang out with my family, crossword puzzles.
Things I hate: conflicts, smell of durian, wake up early, traffic jam, books with bad translations, spoilers.
I’m happy just to be surrounded by my books, but someday I dream to have my own little bookshop (like the one Meg Ryan have in You’ve Got Mail). And my obsession is to go around the world, browsing books in every small and big bookstores.
Contact me: astridfelicia [at] hotmail [dot] com

Nantikan postingan Agatha Christie-nya Kak Astrid di blogku ya. 




[Blogtour+Giveaway] Some Kind of Wonderful

Judul : Some Kind of Wonderful
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 360 Halaman
Cetakan Pertama, Januari 2017
ISBN : 9786020335551
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Liam Kendrick dan Rory Handitama memahami arti kehilangan. Liam pergi ke Sydney dengan dalih menggapai impian sebagai koki, walau alasan sebenarnya untuk menghindari cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Di lain pihak, Rory sedang berusaha menata kehidupannya setelah suatu insiden membuatnya kehilangan orang-orang yang disayanginya, dan melepaskan impiannya sendiri sebagai pemusik.


Keduanya paham arti berduka, meski belum mengerti caranya. Kesedihan dan kesepian mendekatkan Liam dan Rory, sampai akhirnya ada rasa lain yang menyusup. Saat perasaan sudah tak terelakkan, Liam dan Rory terjebak keraguan, dan rasa lama masih terlalu kuat untuk dilupakan. Dapatkah dua orang yang pernah mencintai orang lain dengan segenap hati menyisakan ruang bagi satu sama lain? 

***

Liam harus merelakan cinta pertamanya, Wendy, yang akan menikah dengan orang lain. Dengan Willem, adiknya sendiri. Sebenarnya, kepergian Liam dari keluarga Sutjiawan ke Australia tujuh tahun silam, adalah untuk menghindari Wendy, sekaligus menyembuhkan luka akibat cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Wendy, gadis pertama dalam kehidupannya yang mencuri hati Liam. Wendy adalah anak dari asisten ayahnya yang seorang politikus sekaligus pengusaha sukses ternama. Sejak kecil Wendy sudah masuk ke dalam kehidupannya dan Willem, adiknya. 

Berbeda dengan Liam, sang adik adalah tipikal seseorang yang serius, dan memiliki kehidupan yang menjanjikan. Liam memulai kehidupan di Sydney dari bawah sekali. Ia ingin membuktikan pada ayahnya kalau dirinya bisa sukses dari passion yang ia miliki di dunia kuliner. Dimulai dengan Homey, rumah makan pertama tempat ia bekerja, sampai akhirnya sekarang ia memiliki acara kulinernya sendiri di televisi. Meskipun sudah tujuh tahun berlalu semenjak kepergiannya dari rumah, ia masih belum bisa melupakan Wendy, dan luka yang ditimbulkan saat mendengar bahwa Wendy dan adiknya bertunangan, dan akan segera melangsungkan pesta pernikahan dalam waktu dekat.

Rory mengalami kejadian pahit tiga tahun silam. Suami dan anaknya meninggal dunia dalam sebuah tragedi berdarah. Sejak saat itu, ia melupakan mimpi dan passion hidupnya di bidang musik, dan menjalani rutinitas konstan tanpa gairah hidup. Rory bergabung dalam acara anak-anak di Network Eleven, hanya karena Ruben, anaknya, dulu menyukai acara itu. Untuk menyambung hidup, ia juga bekerja di Klinik, sebuah kedai kopi. Kepergian Jay dan Ruben memberikan luka begitu dalam bagi kehidupan Rory. Dalam kesendirian dan keheningan rumahnya, ia sering melihat wujud anak dan suaminya, dan berinteraksi dengan mereka.

Bukan peristiwa besar yang mengingatkan kita akan kepergian seseorang. Bukan tanggal kepergian mereka, atau hari ulang tahun yang sudah tak lagi dirayakan. aku bisa berpura-pura melewati hari seperti biasa, mengantisipasi rasa sakit yang akan datang dan mengebalkan hati semaksimal mungkin. Tapi tidak pernah ada yang mempersiapkanku untuk hal-hal kecil yang datang secara tiba-tiba. ---halaman 34

Lalu, Liam dan Rory, yang berada dalam satu naungan Network Eleven, bertemu. Ia melihat Rory, dan memiliki ketertarikan yang aneh pada wanita itu. Ia melihat bahwa Rory, dengan aura menyedihkan yang kontras dengan segmen acara yang mengharuskannya tampak ceria, memiliki sesuatu yang berbeda. Meskipun, Liam menyadari, bahwa Rory, atau wanita mana pun yang dikenalnya, bukanlah Wendy. Namun, sejak pertemuan itu, Liam jadi sering mengunjungi Rory di Klinik saat wanita itu sedang bekerja.

Bagi Rory, bertemu dengan Liam sama saja dengan membuka kenangan tentang Jay. Dulu Jay senang menonton acara yang dibawakan Liam. Jay bahkan sering mempraktikkan masakan yang dibuat oleh Liam meskipun hasilnya tidak memuaskan, atau bahkan seringnya gagal berantakan. Namun, kehadiran Liam yang secara terang-terangan menawarkan sebuah pertemanan, dianggap spesial oleh teman-teman Rory yang menganggap bahwa itu adalah hal yang baik. Rory butuh kebahagiaan dalam hidupnya setelah peristiwa itu. Meskipun, mereka harus meragukan reputasi Liam yang memang terkenal suka bergonta-ganti pasangan.

Bagaimana kelanjutan hubungan pertemanan ini? Bisakah mereka melalui masa-masa sulit dalam hidup masing-masing dan hadir untuk saling melengkapi?

Perasaan adalah sesuatu yang rumit. Begitu rumitnya, hingga terkadang aku kesulitan menguraikan benang-benang rasa yang kusut masai dan saling menjaring dalam hatiku. ---halaman 302

***

Satu kata untuk novel ini: WONDERFUL! (dengan huruf kapital.)

Saya menuliskan ulasan singkat tentang novel ini di goodreads saat baru saja menyelesaikannya: Buku ini indah, indah banget. Hebat, hebat banget. Emosi yang diberikannya, cara menyampaikan perasaan karakternya, cara memperkenalkan para tokohnya... Bagaimana penulis bahkan memberikan sentuhan kecil macam mengetuk-ngetuk jemari saat sedang gugup, itu detail yang berkesan. Nah, sekarang, saya akan memberikan ulasan yang cukup panjang mengapa novel ini saya katakan indah dan hebat.

Pertama, saya menyukai bagaimana Kak Winna memperkenalkan tokoh-tokohnya. Dimulai dengan kisah Liam yang akhirnya kembali ke Jakarta, setelah hilang begitu lama, untuk menghadiri pertunangan Wendy, gadis yang dicintainya, dengan Willem, adiknya. Penulis mengajak pembacanya flashback ke masa silam, di mana pertemuan Liam dan Wendy berlangsung di masa kecil mereka. Bagaimana Wendy yang menyelinap ke perpustakaan ayahnya, dan Wendy yang menyukai hujan badai lebih dari siapa pun. Saya telanjur jatuh hati pada Wendy. Dan ini, menurut saya kurang baik, sehingga jujur saja, membuat saya khawatir. hey, she's side character! Bagaimana bisa kemunculannya sudah begitu mencuri perhatian? Apa jangan-jangan kesan terhadap Wendy bakal lebih mendominasi ketimbang Rory? 

Namun, kekhawatiran itu lenyap begitu saja ketika Kak Winna memperkenalkan Rory. Aurora Handitama, yang hidupnya menyedihkan, namun berusaha untuk tetap melanjutkan kehidupan. Ia terus saja menyimpan kenangan tentang suami dan anaknya yang telah tiada. Kehadiran Rory, berhasil membuat saya bersimpati sekaligus berempati pada kisahnya. Membuat Rory tampil mencuri hati pembaca dengan caranya tersendiri. Dan, untuk itu, saya suka kutipan yang disampaikan kepada Rory berikut ini:

'Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." ---halaman 303

Dari segi penokohan, karakter-karakter yang ada di sini tidaklah ada yang sempurna. Dan dari ketidaksempurnaan itulah para tokoh berhasil menyusup ke dalam hati pembaca. Tengoklah Liam, yang seorang anak politikus ternama, tapi menghilangkan segala macam atribut dan kekayaan orangtuanya untuk memulai hidup baru, benar-benar dari bawah. Namun di luar itu semua, dan di balik kesuksesan yang berhasil diraihnya, ia masih memiliki ruang kosong dalam hatinya yang ditinggalkan oleh orang yang ia cintai. Dan ia kehilangan sosok keluarga setelah berperang hebat tentang pembuktian diri kepada ayahnya. Lalu Rory. Dari awal, kepergiannya ke Sydney, juga berhubungan dengan pembuktian diri. Dan ia bertemu dengan orang yang begitu dicintainya, memiliki keluarga yang sempurna. Namun, pada suatu masa, ia kehilangan itu semua. Character building para tokoh-tokohnya berjalan dengan sebagaimana mestinya, membuat pembaca ikut dengan perkembangan yang terjadi dalam kisah mereka.

Untuk segi penulisan, saya tidak memprotes. Saya pernah mengatakan di sebuah review kalau saya kurang menyukai deskripsi campur Inggris-Indonesia---kecuali tulisan Winna Efendi. Ya, saya pernah menuliskan itu, tapi lupa di mana. Kesan itu saya dapatkan ketika membaca novel Melbourne Rewind. Dan, juga di novel ini. Saya nggak banyak protes dengan itu. Karena, menurut saya, deskripsi dengan bahasa Inggris di novel ini begitu pas. Pas dengan setting-nya, pas dengan karakternya, pas pula dengan apa yang ingin disampaikan. Jadi, for some reasons I couldn't explain, i didn't complain with that, lalala. 

Yang jelas, novel ini indah sekali. Rasanya begitu dekat dengan sosok karakternya, dan pembaca bisa merasakan apa yang tengah bergemuruh di dada karakter-karakternya. Dan, membuat saya hampir meneteskan air mata karena kedekatan emosional itu. Keren. Saya suka sekali dengan novel ini. Bahkan, di halaman-halaman akhir, saya merasakan perasaan bagaimana ingin segera mengakhiri membaca bukunya, sekaligus tidak ingin perjumpaan dengan Liam dan Rory segera berakhir.


***

It's giveaway time!


Saya sangat senang karena bisa terlibat dalam blogtour Some Kind of Wonderful. Bahkan ketika bukunya belum sampai pun, saya sudah kadung excited dengan membaca buku versi digitalnya. Nah, sekarang, saya hadir di sini sebagai pembuka dari rangkaian blogtour bertajuk "A Month with Winna Efendi" ini.

Ada satu eksemplar novel ini, dipersembahkan oleh Winna Efendi dan Gramedia Pustaka Utama, yang akan diberikan melalui giveaway yang diadakan di blog saya. Kalian ingin ikutan? Caranya gampang. Cek rules di bawah ini ya.


  1. Giveaway ini hanya untuk kalian yang berdomisili atau memiliki alamat pos di Indonesia.
  2. Follow blog saya melalui akun Google Friend Connect yang ada di sidebar blog ini.
  3. Follow akun twitter @WinnaEfendi, @gramedia,  @fiksigpu, dan @niesya_bilqis.
  4. Share giveaway ini di akun twitter kalian. Jangan lupa mention  @WinnaEfendi@gramedia,  @fiksigpu, dan @niesya_bilqis, dengan tambahan hashtag #SomeKindofWonderful ya. Jangan lupa kasih link menuju giveaway ini.
  5. Berikan komentar di bawah postingan ini dengan menuliskan nama, alamat twitter, link share, dan jawaban untuk pertanyaan yang saya ajukan.
  6. Pertanyaannya adalah, eh sebenarnya ini bukan pertanyaan ya, hehe. Ceritakan satu hal yang berkesan pada hidup kalian, yang menurut kalian adalah sesuatu yang "WONDERFUL" (iya, wonderful-nya pakai huruf kapital, hehe).
  7. Giveaway ini akan berlangsung dari tanggal 8 hingga 13 Februari 2017. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan paling lambat tiga hari setelahnya. Apabila dalam waktu 3 x 24 jam tidak ada konfirmasi dari pemenang, akan dipilih pemenang lainnya. 
Semoga kalian beruntung. Novel ini sangat direkomendasikan oleh saya, bagi kalian yang ingin membaca buku yang hangat tentang berdamai dengan masa lalu dan melanjutkan kehidupan dengan menggapai asa dan harapan.

Good luck!!!










Recent Quotes

"Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian." ~ Meniti Bianglala

Setting

Indonesia (35) Amerika (12) Inggris (11) Jepang (4) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)