Jakarta Sebelum Pagi

Judul : Jakarta Sebelum Pagi
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie 
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia
Tebal Buku : 280 Halaman
ISBN : 9786023754847
Rating : 5 dari 5




Hari ini, di pemakaman, ada orang yang dikubur, dan ada orang yang mengubur. Namun sepertinya, kematian mengambil keduanya--satu orang mati dan satu orang hidup. Bukan salah kematian, kurasa. Kematian hanya mengambil satu dari mereka. Masalahnya, yang ditinggal masih berusaha mengejarnya, berharap kematian mau mengembalikan apa yang ia ambil. ---halaman 1


Blurb:


“Jam tiga dini hari, sweter, dan jalanan yang gelap dan sepi .... Ada peta, petunjuk; dan Jakarta menjadi tempat yang belum pernah kami datangi sebelumnya.”

Mawar, hyacinth biru, dan melati. Dibawa balon perak, tiga bunga ini diantar setiap hari ke balkon apartemen Emina. Tanpa pengirim, tanpa pesan; hanya kemungkinan adanya stalker mencurigakan yang tahu alamat tempat tinggalnya.



Ketika—tanpa rasa takut—Emina mencoba menelusuri jejak sang stalker, pencariannya mengantarkan dirinya kepada gadis kecil misterius di toko bunga, kamar apartemen sebelah tanpa suara, dan setumpuk surat cinta berisi kisah yang terlewat di hadapan bangunan-bangunan tua Kota Jakarta. 




***
Emina, seorang gadis metropolitan yang unik. Kenapa unik? Karena pembawaannya yang menarik: ceria, easy-going, blakblakan dalam versinya tersendiri. Orangtuanya meninggal dunia, yang tersisa dari keluarganya adalah kakek dan neneknya serta adik dari kakeknya yang tinggal di sebuah rumah, Emina memberi julukan "Rumah Para Jompo". Tetangga mereka, juga seorang lelaki tua keturunan Belanda yang dipanggil oleh Emina dengan sebutan Pak Meneer.

Lalu tiba-tiba ada orang misterius yang mengiriminya surat misterius dengan caranya yang unik. Surat itu dikirimkan dengan balon gas yang lewat dari jendela apartemennya, ditambah dengan bunga hyacinth biru. Pilihan cara mengirim surat yang unik, dan bunga langka yang tidak sembarang bisa tumbuh di Indonesia.

Isi suratnya pun tak kalah misterius. Tentang surat yang bukan atas namanya, dengan setting Jakarta bahari, namun surat itu secara gamblang ditujukan pada dirinya. Reaksi Emina tidak seperti yang seharusnya orang normal mengatasi itu. Temannya mengatakan kalau itu perilaku penguntitan. Namun Emina justru merasa penasaran. Maka dimulailah skenario investigasi yang membawa Emina berkenalan dengan seorang gadis SD yang unik bernama Suki. Suki adalah pemilik toko bunga yang berada tidak jauh dari apartemennya berada. Gadis keturunan Arab-Jepang itu memiliki hobi tak kalah unik yang berkaitan dengan teh. Anak kecil itu terobsesi dengan teh dan upacara minum teh khas Jepang!

Dari Suki, ia kemudian berkenalan dengan Abel, seorang pemuda korban perang Aljazair yang mengidap trauma terhadap suara level kronik. Hubungan yang aneh terjalin antara Emina dengan Abel. Mereka memutuskan untuk menyelidiki surat-surat misterius yang sampai ke tangan Emina dengan menjelajahi lokasi-lokasi kota Jakarta masa kini, yang terhubung dengan setting Jakarta masa lalu yang tertulis di surat-surat misterius itu.


Mengingat partnernya tidak bisa diajak memecahkan misteri ke tempat-tempat itu pada siang hari, maka mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dini hari dan mengunjungi tempat-tempat itu, berharap dapat memecahkan isi surat dan mengetahui siapa yang dimaksud oleh si penerima maupun pengirim aslinya.


***


Satu hal  yang tidak saya sukai dari keseluruhan novel ini adalah covernya yang mirip sekali dengan I'll Give You The Sun. Aduh, kenapa bisa kecolongan seperti ini? 




Tapi, di luar satu hal itu, novel ini benar-benar out of the box, juara! Dari mulai cara penyampaiannya, plotnya, karakternya, settingnya. Mengingatkan saya pada Animal Farm dan segala macam ke-babi-annya (ini bukan umpatan!), lalu kisah kota zaman dahulu (yang pernah pengin saya buat untuk kota saya tapi sepertinya perlu ditinjau ulang deh setelah menu buku ini), Lyanna Mormont! Suki mengingatkan saya pada karakter itu, eksekusi karakter di dalam ceritanya yang seperti sedang menonton film-film barat romantis, dan... salah satu bab dari buku Fikih Kontemporer yang pernah saya baca, yang membuat kisah ini meskipun tidak biasa, bukan berarti tidak pernah ada.

Oke mari kita bahas satu per satu. Pertama soal karakter. Saya suka bagaimana cara Ziggy menyampaikan karakternya. Meskipun ini baru novel kedua Ziggy yang saya baca, namun saya suka sekali bagaimana penulis menyampaikan cerita berdasarkan karakternya. Saya membaca Di Tanah Lada yang mana tokohnya adalah seorang anak kecil, narasi dan deskripsinya pas sekali dengan usia dan karakter Salva. Di sini, karakternya adalah Emina yang easy going dan seru. Gaya bahasa yang digunakan pun seolah menyatu dengan karakter itu. (Ehem, saya follow akun twitter Ziggy dan sering stalking juga. Saya rasa Emina ini mirip dengan Ziggy pembawaannya.) 

Lalu, plotnya. Wow, saya tidak pernah bisa membayangkan ada beberapa plot aneh dan tidak masuk akal dicampur menjadi satu dan disampaikan dengan cukup masuk akal dan apik! Pertama, tentang sosok gadis metropolitan dengan segala kehidupannya yang... katakanlah bisa saya bayangkan: berjibaku dengan kemacetan jalan rahya, jam kerja, pergaulan kantor (meskipun ini bukan plot utama cerita ini). Lalu, dipadukan dengan cerita tentang seorang pemuda korban perang Aljazair. Saya saking kepo-nya, sampai googling, dan ternyata perang itu benar ada. Timeline-nya pas dengan perkembangan usia si tokoh utama. Tentang kebudayaan Jepang, lalu si bunga hyacinth yang bahkan baru saya dengar di novel ini. Dan mau tahu yang paling mencengangkan? Wah, saya tidak mau spoiler karena bisa dibilang ini salah satu plot kunci. Tapi, sesuatu ini yang benar-benar tidak dapat diprediksi dan bagi orang normal (maaf ya Ziggy, kamu sedikit tidak normal kalau begini, hahaha, ini pujian lho) rasanya susah mencapai "ide" itu dan menggunakannya serta meramu dengan plot-plot lain. Sesuatu itu yang langka, namun bukan berarti tidak ada, karena saya pernah menemukan pembahasan tentang itu di buku Fikih Kontemporer.

Dari segi karakter, juara! Suki mengingatkan saya pada Lyanna Mormont, si gadis kecil pemimpin Klan Mormont di serial Game of Thrones.




Satu hal lagi, saya kan menemukan novel sejenis ini yang sepertinya bertema kota-kota di Indonesia (saya lihat ada novel yang judulnya Jogjakarta apa gitu judulnya). Pengambilan Jakarta sebagai latar cerita saya rasa cukup pas. Apalagi, sudut pandang yang diambil oleh Ziggy adalah menceritakan "Jakarta versi lain yang tidak biasa" dengan mengambil benang merah "Jakarta tempo dulu". Namun, itu tidak membuat penulis melupakan kondisi kota tersayang ini dengan menggambarkannya dalam versi bahasa Emina dengan memberikan analogi ke-babi-annya: Emina adalah sosok Babi Asap yang terpapar polusi setiap hari karena berangkat ke kantor menggunakan motor, lalu sahabatnya Nissa, adalah Babi Yan-pi karena ia bagaikan sosok yan-pi, karena temannya itu selalu terjepit saat berdesak-desakan di dalam kereta. Lagi-lagi, ini cara penggambaran kota sebagai tema dan setting dengan cara yang tidak biasa.

Sudahlah. Juarak pokoknya! 

18 komentar:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. Makin penasaran rasanya ingin baca novel sang Juara ini hehehe.
    Terkait plotnya, kenapa Bu Niss ga bocorin aja semuanya sekalian? Wkwkwkwk
    Anw, itu covernya beneran miriipp loh. Disengajakah? Hmmmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dibocorin semua gak seruuu wkwkwk. Tapi ini emang belum seberapa yang kujelasin Bin. Pak Mener itu salah satu yang pegang plot kunci. Tapi tapi tapi, di blurb juga miskin bocoran plot :p biar pembaca penasaran dan ber "waaaaah" ria kali ya. Ayo baca, ini sangat direkomendasikan!!!

      Kalau cover sih, saya nggak tahu hahahha. Tapi sangat disayangkan ya ._.

      Delete
    2. Ok Bu Niss, thanks ya rekomendasinyaaa :))

      Delete
  4. Anw, blognya makin unyu euy. Baru sadar aku, baru buka lewat laptop soalnya, hehehehe

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. ah, salah satu bukunya mbak Ziggy yang sampai saat ini masih menjadi wishlist semoga nemu versi bekasnya yang murah. wish me luck!

    ReplyDelete
  7. Tulisan dari mbak Ziggy ini bikin greget, dari reviewnya aja misterius, apalagi kalo udah baca full palingan gak bisa tidur saking penasaran sama surat misteriusnya.

    ReplyDelete
  8. Udah lama tertarik sama bukunya Ziggy sebenernya, banyak yang rekomen, tapi belum pernah kesampaian baca =")) Dan karena bikin kesel covernya mirip abis sama I'll Give You the Sun =')) Berasa pengen minta penerbitnya cetak ulang pake cover lain (......)

    ReplyDelete
  9. Ziggy! Ziggy! Ziggy! Saya suka banget sama Ziggy sejak baca Di Tanah Lada. Setelah sempet tanya jawab sedikit sama ybs, saya menemukan isi kepala Ziggy ini menarik banget! Bikin semua karyanya masuk ke wish list saking pingin ngintip, "Apa lagi sih yang dia buat kali ini?"

    ReplyDelete
  10. Aku belum kenal tulisan Ziggy. Namun,
    Setelah melihat reviewnya kak bilqis aku, awalnya aku menjadi tertarik dan lama-lama yap, buku ini memang cukup menggiurkan untuk ku baca. Apalagi, kesan misteriusnya kental banget katanya. Apakah buku ini mirip kisah detective ya?

    ReplyDelete
  11. Aku belum kenal tulisan Ziggy. Namun,
    Setelah melihat reviewnya kak bilqis aku, awalnya aku menjadi tertarik dan lama-lama yap, buku ini memang cukup menggiurkan untuk ku baca. Apalagi, kesan misteriusnya kental banget katanya. Apakah buku ini mirip kisah detective ya?

    ReplyDelete
  12. Jakarta Sebelum Pagi dan Rumah Kertas sebenarnya sudah masuk wishlist. Tapi setelah membaca review novel-novel di giveaway kali ini, aku jadi lebih tertarik dengan Almost 10 Years Ago dan Dash & Lily's Book of Dares.
    Tapi kalo kebetulan beruntung dan dapetnya Jakarta Sebelum Pagi sih, mau mau aja. Seneng malahan karena mengurangi wishlist.

    ReplyDelete
  13. Udah pernah ikutam giveaway novel ini tapi belum menang kak.
    judulnya membuat pemikat, reviewnya apalagi,langsung berharap banget dapat novel ini dpenghujung tahun 2016.

    ReplyDelete
  14. Good review kak😊
    Sebelum baca review di blog kakak, dari judulnya aku sempat mengira buku ini menceritakan tentang "kehidupan malam" di kota Jakarta. Ternyata daku salah besar. Mungkin gara-gara aku pernah baca review film Indonesia yg berjudul "Selamat pagi, malam.." 😂 mueheheehee...

    Sudah lama penasaran dgn buku-buku karya Ziggy, tapi belum berkesempatan membacanya...
    Semoga kali ini beruntung di blog kak Nisa 😃

    ReplyDelete
  15. Siapa sih yang kirimin surat misterius plus bunga buat Emina pake balon udara? Tapi ga meleset yah, ga nyasar gitu ke jendela yang lain, hehehe :D

    Misi-misi Emina menyelesaikan dan memecahkan isi surat misterius yang
    Ia dapat. Kira-kira apa maksud dan tujuan si pengirim ya. Petualangannya pasti seru dengan setting lokal.

    Mau dong dikasih bunga tapi minus surat misteriusnya ya. #eh pak Mener itu bukan yang punya pabrik jamu kan, jangan-jangan ini suaminya si nyonya lagi ;p

    ReplyDelete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)