Saman

Judul : Saman
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 206 Halaman
ISBN : 9789799105707
Rating : 3 dari 5 





Empat perempuan bersahabat sejak kecil. Shakuntala si pemberontak. Cok si binal. Yasmin si “jaim”. Dan Laila, si lugu yang sedang bimbang untuk menyerahkan keperawanannya pada lelaki beristri.

Tapi diam-diam dua di antara sahabat itu menyimpan rasa kagum pada seorang pemuda dari masa silam: Saman, seorang aktivis yang menjadi buron dalam masa rezim militer Orde Baru. Kepada Yasmin, atau Lailakah, Saman akhirnya jatuh cinta?


***


Pada cover belakangnya, terselip informasi bahwa novel ini bercerita tentang persahabatan empat perempuan. Namun yang akan didapati ketika membaca Saman pada mulanya adalah kisah tentang Laila dan kisah cintanya dengan seorang pria berirstri bernama Sihar. Pertemuan keduanya bermula ketika Laila pergi ke Laut Cina Selatan untuk meliput aktivitas pertambangan di Texcoil tempat Sihar bekerja. Namun saat dirinya berada di sana, sebuah peristiwa tidak menyenangkan terjadi, sebuah kecelakaan kerja akibat kesalahan SOP yang dilakukan oleh rekan kerja Sihar mengakibatkan teman Sihar yang lainnya meninggal dunia.

Rupanya itu adalah peristiwa awal mula yang membuat hubungan keduanya menjadi dekat. Laila meredakan amarah Sihar dengan memberikan solusi tentang dampak kejadian itu. Laila memperkenalkan Sihar dengan seseorang bernama Saman yang merupakan aktivis lingkungan serta Yasmin, sahabatnya sejak kecil. Setelahnya, hubungan terlarang kedua insan itu terajut, meskipun hubungan ini tidak melibatkan kontak fisik. Fakta bahwa Laila adalah seorang gadis lugu yang terjebak dalam cinta yang salah, membuat Sihar tidak tega untuk merenggut kesuciannya, selain juga bahwa dia tidak ingin berkhianat di belakang istrinya.

Sahabat-sahabatnya merasa prihatin dengan kisah percintaan Laila karena selalu bertemu dan jatuh cinta dengan orang yang salah. Dulu Laila pernah jatuh cinta dengan seorang pria yang memutuskan hidupnya sebagai seorang pastor, dan orang itu adalah Saman.

Nama asli Saman adalah Athanius Wisanggeni. Saman memutuskan untuk menjadi seorang pastor dan mengabdi ke Perabumulih. Ada magnet tersendiri yang membuat Wisanggeni penasaran dengan tempat ini, sesuau yang berhubungan dengan ibunya dan kisah misterius tentang meninggalnya adik Saman sewaktu kecil. Dari tempat itulah kemudian ia berkenalan dengan seorang anak perempuan yang memiliki keterbelakangan mental bernama Upi. Atas dasar rasa kasihan dengan nasib gadis itulah yang menumbuhkan kepedulian lelaki itu terhadap keadaan masyarakat di sana. Prahara timbul ketika pemerintah memaksa warga di Perabumulih untuk mengubah mata pencaharian warga yang semula berkebun karet menjadi kelapa sawit. Perlawanan warga membuat beberapa yang dicurigai sebagai otak di balik peristiwa itu ditahan, termasuk Wisanggeni. Saat ada kesempatan untuk melarikan diri, membuat Wisanggeni menjadi buronan yang paling dicari. Tuduhan demi tuduhan ditimpakan kepadanya, termasuk disangka pelaku kristenisasi memberatkan posisinya, hingga akhirnya dia harus mengubah identitasnya menjadi Saman, dan melarikan diri ke luar negeri.

Upaya melarikan Saman itu tidak lepas dari peran dua orang sahabat Laila, Shakunta dan Cok. Karena dua orang inilah yang membuat Saman berhasil keluar dari Indonesia. Shakunta sendiri adalah seorang gadis pemberontak sejak remaja, terutama kepada ayahnya. Sementara Cok adalah gadis yang binal, berulang kali gonta-ganti pacar. Kehidupan keduanya di novel ini tidak terlalu dijabarkan seperti porsi cerita Laila..., dan Yasmin.

Kisah Yasmin baru muncul di bagian akhir novel ini, dan memberikan twist yang tidak terduga. Yasmin seorang wanita yang menggeluti hukum. Ia menikah dan mempunyai keluarga harmonis. Namun pada satu kondisi, ternyata dia mencintai orang lain..., yaitu Saman. Keterlibatan keduanya pada permasalahan hak asas manusia membuat keduanya dekat dan merasakan jalinan cinta.

Untuk kisah selanjutnya..., silakan baca sendiri :)

***


Awalnya mau kasih bintang dua, tapi justru karena baca catatan pengarang 15 tahun kemudian yang ada di paling belakang buku ini, membuat saya justru menaikkan bintang jadi 3.

Sebagai penikmat novel/roman lawas dan dulu sempat baca tentang di balik cerita angkatan sastra, setidaknya saya paham bahwa pada masa sebelum reformasi, kebebasan berbicara, berpendapat, tidaklah seperti yang dapat kita nikmati sekarang. Saya pun mengamini kalimat Ayu Utami yang menyampaikan slogan: "Ketika pers dibungkam, sastra bicara." Lantas membuat saya teringat dengan Hamka, bagaimana perjuangan beliau menyiratkan upaya kesadaran bangsa Indonesia akan perjuangan melawan penjajah dengan bahasa sastra. Tidak mudah tentu saja, menyamarkan maksud terselubung hingga bahkan tak terendus (kalau kena cekal tentu kita tidak dapat menikmati novel-novel sarat makna terselubung tersebut).

Nah oke balik lagi ke Saman. Sebagai pembaca awam--saya katakan awam karena, jujur, saya tidak tersadarkan ada maksud lain di balik isi cerita ini kalau tidak diingatkan oleh Ayu Utami pada bagian belakangnya. Saya hanya menikmati suguhan cerita seperti biasa saja, barangkali memang pengaruh zaman yang ... apa ya istilahnya, keenakan? Terlalu larut dalam kenyamanan barangkali, hingga memudarkan makna di balik niat mengeluarkan novel ini pada zamannya dulu. Nah, sebagai orang awam saya cukup menikmati novel ini meskipun ada bagian-bagian yang perlu dikritisi (oleh saya saja sih). Namun, dengan kekayaan imajinasi penulis dalam menggarap novelnya (mulai dari menyinggung soal cinta, agama, kekuasaan, tercium nuansa pemberontakan, sampai seks, bahkan alam metafisika), membuat saya kagum.


0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)